Wednesday, April 06, 2016

[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke-7] Tahun Ajaran Baru dan beberapa nasehat

[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke-7] Tahun Ajaran Baru dan beberapa nasehat

Oleh : Endrianto Djajadi

Kemarin hari Selasa, tanggal 5 April 2016, saya menghadiri 2 acara Upacara Masuk sekolah yang dalam bahasa Jepangnya Nyuugakushiki (入学式). Acara ini boleh dikatakan salah satu acara yang sangat penting bagi orang tua, baik orang Indonesia maupun orang Jepang. Terlihat dari ramainya para orang tia yang menghadiri acara ini dengan mengambil cuti di kantor. Selain acara ini ada juga acara-acara penting lainnya seperti Undoukai (Festival Olahraga) dan Sotsugyou Shiki ((Wisuda).

Kemarin, saya menghadiri Nyuugakushiki SD anak saya yang ke-4 dan Nyuugakushiki SMP anak saya yang ke-2.
Format acaranya seperti ini :

Para peserta diminta berdiri.
1. Pembukaan oleh Wakil Kepala Sekolah
2. Menyanyikan Lagu Kebangsaan Jepang : Kimi ga yo
3. Menyanyikan Lagu Yokohama City
Parra peserta dipersilakan untuk duduk.

Setelah duduk acara berikutnya;
4. Sambutan dari Kepala Sekolah
5. Sambutan dari kakak kelas (Seperti pengurus OSIS)
6. Sambutan dari PTA (Perkumpulan Orangtua murid)
7. Ucapan selamat dari berbagai lembaga
8. Perkenalan undangan yang hadir yang terdiri dari pengurus RW, Kelurahan, Kecamatan, guru-guru TK, pengurus PTA dll
9. Penutup

Acara di atas diselingi dengan paduan suara dari kakak-kakak kelas.
Kalau acara Wisuda kelas 6, maka murid-murid kelas 5 yang tampil untuk Paduan Suara sedangjan ketika Acara Masuk anak kelas 1, maka anak kelas 2 yang tampil. Ini menggambarkan begitu kompaknya hubungan kakak dan adik kelas.

Pada tulisan ini saya ingin sharing beberapa nasehat dari Kepala Sekolah (Kouchou Sensei) dalam sambutannya. Dalam Nyuugakushiki SD, Kouchou Sensei menyampaikan 3 hal yang disingkat dalam 3 huruf : A Hi Ru (アヒル) yang kalau diartikan adalah Bebek. Mungkin Kouchou Sensei mencari Keyword yang mudah diingat oleh para murid SD kelas 1. Beliau menyampaikan arti singkatan A Hi Ru :

A : Aisatsu, artinya memberikan salam, seperti : Ohayou gozaimasu yang artinya Selamat Pagi. Ketika bangun tidur, aisatsu kepada orang rumah. ketika bertemu di sekolah dengan teman-teman dan guru-guru, aisatsu dengan suara ceria nada ke atas yang memberikan kesan semangat dan sehat hari ini. Tentunya dengan muka yang ceria.

Hi : Hitori, artinya semuanya bisa dilakukan sendiri. Di kelas kalau ada yang tidak bisa bukan menangis mencari mama atau papa.

Ru : Rule atau aturan. Para murid diminta mengikuti aturan-aturan yang ada.

3 hal di atas mudah diingat dengan keyword A Hi Ru atau Bebek.

Satu hal lagi yang disampaikan oleh Kouchou sensei kepada orang tua murid (Tanpa ada siswa di ruangan itu), beliau katakan pihak sekolah akan berusaha menyamakan visi dan misi dari keluarga. Sehingga bila suatu saat ketika anak bingung kenapa di rumah diajarkan A tapi di sekolah diajarkan B dan mereka curhat kepada ibu dan bapaknya, Kouchou sensei meminta agar para orang tua :
1. Tidak menyalahkan guru-guru di depan anaknya. Seperti : iya salah tuh gurunya dll yang ini akan berakibat menurunkan kepercayaan anak terhadap guru dan sekolah.
2. Mengkomunikasikan hal-hal yang tidak sesuai dengan visi misi di rumah kepada pihak sekolah agar dicarikan solusi yang terbaik.

Pada kesempatan bertemu guru di kelas, saya sampaikan kalau anak ke-4 kami sama seperti kakak-kakaknya meminta tempat untuk shalat zuhur dan Alhamdulillah mereka faham.

--- oOo ---

Setelah di pagi hari saya mengikuti Upacara Masuk SD, di siang hari saya menghadiri acara Nyuugakushiki SMP. Sama seperti Nyuugakushiki SD, acara SMP pun banyak dihadiri para orangtua murid.
Formst acara hampir sama dengan acara di SD.

Saya cukup kaget ketika Kouchou Sensei SMP menyampaikan sambutannya. Beliau sampaikan akan pentingnya Aisatsu. Ya ... Pentingnya memberikan salam ketika bertemu teman-teman dan guru-guru. Pada acara Wisuda SMP anak pertama tanggal 14 Maret lalu, Kouchou sensei juga menekankan pentingnya Aisatsu ini. Saya teringat ketika dulu awal-awal masuk kerja di perusahaan Jepang, para trainer juga menyampaikan pentingnya Aisatsu dan di kantor sekarangpun, kadang Manager juga mengingatkan para staffnya untuk Aisatsu yang semangat dan ceria. Ternyata Aisatsu ini sudah diingatkan sejak mulai SD dan SMP di Jepang.

Dalam agama yang saya anut yaitu Islam ada anjuran menebarkan salam : Assalaamu'alaikum ... yang dengan memberikan salam ketika bertemu dengan sesama muslim, selain dapat mempererat hubungan antara sesama muslim, kita juga mendoakan agar teman yang kita jumpai mendapatkan keselamatan.

Setelah selesai acara Nyuugakushiki saya menghadap wali kelas untuk mendiskusikan 2 hal yaitu : Tempat shalat zuhur dan izin untuk shalat Jumat.

Untuk tempat shalat, Alhamdulillah pihak sekolah memberikan tempat di lantai paling atas dimana murid-murid tidak boleh naik ke tempat itu. Tempatnya bersih dan itu adalah tempat shalat anak pertama saya ketika sekolah di sana.

Kedua, tentang shalat Jumat. Jam istirahat makan siang dari jam 12:00-12:40. Saya jelaskan begitu pentingnya shalat Jumat bagi putra saya sehingga dia perlu pergi shalat Jumat dan akan kembali ke kelas sekitar jam 13:45.
Setelah mendengar penjelasan yang panjang, wali kelas menjawab. Kami akan berusaha menyesuaikan dengan budaya yang berbeda. Kalau nanti ada hal-hal lain yang berbeda lagi silakan sampaikan ke kami.

Alhamdulillah ... kegundahan saya dan istri beberapa bulan terakhir ini tentang bagaimana mensiasati shalat jumat dapat terpecahkan.
Saya sangat mengapresiasi guru-guru Jepang, karena begitu hormatnya mereka dengan perbedaan budaya dan menghormarti visi dan misi di keluarga para murid.

Mudah-mudahan tulisan di atas bisa diambil hikmah dan pelajarannya.

Tokyo, 6 April 2016

-----
Penulis : Endrianto Djajadi
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menamatkan studi d3-S2 dalam bidang Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Engineer di perusahaan Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com

Friday, March 11, 2016

[Cerita] Solidaritas Warga Indonesia untuk Jepang

[Cerita tentang Jepang] Solidaritas Warga Indonesia untuk Jepang.

Video Clip :
https://m.youtube.com/watch?v=PwHm2rbmVEY

Chiba, 11 Maret 2016

Oleh : Endrianto Djajadi

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari ini, Hari Jumat, 11 Maret 2016. Tepat 5 tahun lalu, Hari Jumat, 11 Maret 2011 terjadi Gempa Besar di Tohoku, daerah Jepang Utara.

Penulis teringat kembali kejadian-kejadian saat itu. Setelah pulang shalat Jum'at di SRIT dan duduk di kantor tepat pukul 14:46 gempa besar terjadi. Saat itu penulis berada di gedung lantai 15. Terdengar secara bersamaan bunyi sirene dari HP teman-teman kantor yang menandakan terjadinya gempa. Karena di Jepang biasa terjadi gempa, awalnya kami merasa biasa-biasa saja. Tetapi setelah bergoyang beberapa detik dan goyangan tidak berhenti kami masuk ke bawah meja. Memang seperti itu SOP di Jepang, bila terjadi gempa kita tidak diminta untuk lari tetapi diminta untuk berlindung di bawah meja. Ini agar kita terlindung dari barang yang jatuh dari atas bila seperti pecahan kaca atau lampu.

Laci meja kantor terbuka secara tiba-tiba karena gedungnya ikut miring karena gempa.
Gedung Shinagawa Tec adalah salah satu gedung yang disewa oleh kantor saya yang bangunannya cukup tinggi. Gedung dengan 30 lantai dimana penulis bekerja di lantai 15. Setelah gempa berhenti, teman-teman mencoba menghubungi keluarga masing-masing dan melihat berita di TV.

Yang cukup mengagetkan adalah ketika Japan Railway sekitar pukul 17:00 mengumumkan berhenti beroperasi. Ini menyebabkan banyak orang yang terkonsentrasi di Shinagawa Sta. yang merupakan station padat di daerah Tokyo.

Ketika terjadi gempa pihak kantor menyediakan alas tidur, selimut dan beberapa makanan untuk pegawai yang menginap di kantor.

Sekitar pukul 20:00, penulis memutuskan untuk pulang. Teman-teman yang tinggal di sekitar Odawara memilih menginap di kantor karena kereta satu-satunya yang menuju rumah mereka JR Tokaido Line berhenti.

Penulis pukul 20:00 beranjak dari kursi dan menuruni tangga satu per satu dari lantai 15 sampai lantai 1 karena lift kantor tidak beroperasi. Di Shinagawa Sta, pintu masuk ke station sudah ditutup. Banyak orang yang menggelar alas tidur di depannya. Di tempat menunggu taksi terlihat ratusan orang yang antri. Jalan macet di tengah-tengah dan di sisi kiri dan kanan jalan orang-orang ramai memilih berjalan. Pemandangannya mirip dengan kota Mekkah ketika musim Haji.

Penulis mengambil pilihan untuk jalan ke rumah. Belum terbayangkan untuk jalan dari Shinagawa Sta sampai rumah yang berjarak lebih dari 25 km.

Berharap ada kereta selain JR yang beroperasi, penulis berjalan dari Shinagawa menuju Gotanda. Berharap Tokyu Ikegami Line beroperasi ternyata Ikegami berhenti. Penulis lanjut ke Meguro dan setelah berjalan 1-2 jam penulis sampai di Naka Meguro Sta. Alhamdulillah dari sana penulis bisa pulang ke rumah dengan Tokyu Toyoko dan Tokyu Denentoshi Line.

Beberapa hari setelah gempa banyak orang yang antri di depan supermarket sebelum jam bukanya. Ketika dibuka mereka berlari untuk mendapatkan beberapa barang. Yang utama adalah air mineral dan beras.

-----

Warga Indonesia cukup banyak yang tinggal di Jepang. Ada yang menjadi mahasiswa, ada yang bekerja di perusahaan, ada yang training dan ada juga yang menjadi ibu rumah tangga.

Ketika terjadi gempa, ada yang memilih pulang ke Indonesia tetapi ada juga yang bertahan di Jepang.
Ada yang berinisiatif, apa yang bisa kita berikan untuk Jepang di saat Jepang mengalami gempa?

Ada istilah Jepang, Takidashi yaitu dapur umum yang biasa dibuka ketika terjadi gempa.
Forkita sebagai salah satu organisasi warga Indonesia di daerah Tokyo mengajak berbagai organisasi Indonesia yang lain untuk berkontribusi di daerah gempa.
Atas dasar kemanusiaan ini, acara dapur umum dapat diadakan hampir tiap pekan selama 3-4 bulanan. Banyak organisasi warga indonesia yang mendukung acara ini. Acara ini diakhiri dengan acara Indonesia Day yaitu warga indonesia menampilkan beberapa pertunjukkan kebudayaan Indonesia di panggung tempat para pengungsi di daerah gempa.

----

Gempa sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, mudah-mudahan dengan adanya kejadian ini dapat menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya.

Dan ucapan terima kasih yang dalam kepada sahabat-sahabat yang sudah berkontribusi banyak ketika terjadi gempa 5 tahun yang lalu. Mudah-mudahan ini semua dicatat sebagai amal kebaikan sahabat-sahabat sekalian.

-----

Penulis : Endrianto Djajadi
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menamatkan studi d3-S2 dalam bidang Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Engineer di perusahaan Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com

----
Referensi :

- Twitter FORKITA
https://mobile.twitter.com/forkitajp

-  Tim relawan Indonesia berfoto bersama pengungsi setelah mereka menikmati sajian Soto khas indonesia http://flic.kr/p/9xfF1z