Saturday, September 05, 2026

[SKJ Sharing Kehidupan di Jepang ke-34] Seputar Shalat Jumat selama bekerja di Jepang

 [SKJ Sharing Kehidupan di Jepang ke-34] Seputar Shalat Jumat selama bekerja di Jepang


Oleh : Endrianto Djajadi 


Setelah lulus kuliah di Jepang tahun 2001, saya melanjutkan kehidupan di Jepang dengan bekerja di perusahaan Jepang dan Eropa. 12 tahun sebagai Development Engineer, 7.5 tahun sebagai Customer Quality Engineer, 4.5 tahun sebagai Supplier Quality Engineer dan 11 bulan sebagai Field Application Engineer. 

Perusahaan yang sekarang adalah perusahaan yang ke 5 dalam perjalanan karir saya di Jepang selama 25 tahun.


Kettika pindah kerja ke perusahaan baru, selain masalah gaji dan posisi, yang menjadi  bahan pertimbangan juga adalah bagaimana saya bisa Shalat Jumat (SJ) Apakah perusahaan memberikan izin keluar kantor untuk SJ. 


Saya ingin cerita beberapa pengalaman seputar SJ selama bekerja di Jepang dan bagaimana tips2 bernegosiasi agar diizinkan untuk SJ. 


Di perusahaan pertama, karena saya  belum ada pengalaman maka ketika interview saya lupa untuk menyampaikan tentang SJ ini. 

Olehkarena itu saya baru bernegosiasi untuk SJ ketika saya sudah masuk kantor di bulan April 2001. Di pekan pertama saya langsung bertemu dengan manager dan terjadilah diskusi yang cukup hangat. 


Endri : Pak bos, saya mau minta izin untuk SJ di tempat terdekat sehingga bila saya keluar kantor jam 12:00 saya akan kembali ke meja saya sekitar jam 14:10. Jadi 12:00-13:00 itu jam istirahat dan 13:00-14:10 saya izin keluar kantor. 

Kantor saya di Shinagawa dan yang terdekat untuk SJ saya harus ke SRIT (Sekolah RI Tokyo) di Meguro. Saya sudah hitung-hitung kira-kira jam 14:10 sudah bisa kembali ke kantor. Beberapa tahun kemudian saya baru tahu ada SJ di universitas di Shinagawa namanya Kaiyoudai dan sekarang bisa juga SJ di Gotanda kantornya JMA (Japan Muslim Association). 


Bos saya cukup terkejut, karena saat itu ada yang namanya Core time dari jam 10:00-15:00. Selama Core time pegawai harus berada di kantor, kecuali ketika bisnistrip, tidak ada Core time. 


Bos : kenapa baru sekarang kamu sampaikan itu? kenapa tidak ketika interview? 


Endri : wah, saya lupa pak Bos


B : kalau ketika interview kamu sampaikan itu mungkin kamu tidak lulus. 


E : oo begitu. 


B : kalau tidak saya izinkan bagaimana? Karena itu Core time. 


E : saya akan overtime setiap hari Jumat sampai jam 21:00 untuk mengganti 1:10 menit yang saya absen di siang hari. Overtime itu tidak perlu dibayar. 


B : oh itu tidak bisa, itu menyalahi aturan


E : kalau begitu dalam 3 pekan saya minta izin 1 kali boleh keluar untuk SJ. 

(Karena saat itu saya ingat ada satu hadits, kita tidak boleh absen SJ 3x berturut-turut. )


B : kalau tidak boleh? 


E : wah, saya jadi tidak konsentrasi kerja pak


B: oh begitu. Ok nanti saya diskusikan dengan HR.


—- oOo —-


Sepekan kemudian Manager saya datang ke saya dengan membawa selembar kertas. 


B : Ini sudah saya diskusikan dengan HR dan HR menberikan solusi, kamu boleh keluar setiap Jumat dari jam 12:00-14:10. Dan setiap hari Senin kamu harus menghapus jam kerja kamu 1:10 di hari Jumat untuk mengganti waktu selama kamu di luar kantor di siang hari.


Alhamdulillah, usaha nego2 dengan pak Bos tidak sia2 dan bahkan boleh keluar kantor setiap pekan . Karena ada surat resmi dari HR ini, maka ketika manager berganti, saya dengan mudah menjelaskan tentang izin untuk SJ ini ke manager yang baru dengan memperlihatkan surat izin dari HR. Bahkan ada teman Indonesia yang baru bergabung tapi beda divisi, dia mengcopy surat dari HR ini  untuk  negosiasi dengan managernya untuk mendapatkan izin untuk SJ dan Alhamdulillah diizinkan dengan cara yang sama dengan saya. 


Untuk di perusahaan ke 2-5, saya menjelaskan dan meminta izin untuk SJ dan shalat Ashar serta Maghrib ketika interview terakhir dan Alhamdulillah semua memberikan izin. Andaikata ada yang tidak memberikan izin, saya pasti akan membatalkan untuk masuk ke perusahaan tersebut karena tidak bisa SJ. Jadi bisa mendapatkan izin untuk Shalat Jumat ini harus menjadi syarat mutlak ketika rekan-rekan memilih perusahaan baru. 


—- oOo —-


Yang penuh tantangan itu ketiika di perusahaan ke 3. Izin untuk Shalat Jumat sudah ok tetapi masalahnya lokasi perusahaan jauh dari Masjid. Lokasinya di Mobara dari Station Chiba 40-50 menitan. 

Kereta hanya ada 2x dalam 1 jam, kalau tertinggal satu kereta saya tidak bisa Shalat Jumat. Dari Mobara kereta menuju Masjid di Nishi Chiba itu adanya jam 11:27 dan 11:45. Adzan mulai jam 12:15 dan selesai Shalat jam 12:50. Jarak dari perusahaan ke Station Mobara sekitar 1 km lebih 


Lalu, bagaimana saya mensiasatinya? 


Saya keluar dari kantor jam 11:10, Jarak kantor ke Mobara station lebih dari 1 km. Saya harus mengejar kereta yang 11:27. Kalau saya jalan kaki, saya tidak bisa naik kereta yang jam 11:27. Akhirnya saya putuskan untuk memanggil taksi setiap Jumat. Mungkin perusahaan taksi sudah tahu setiap jumat akan ada panggilan dari lokasi kantor saya menuju station. 


Saya naik taksi ke Station untuk mengejar kereta yang berangkat jam 11:27.  Sampai di Masjid Nishi Chiba jam 12:10, dan setelah shalat saya naik kereta yang jam 13:06 menuju Mobara, sampai di Mobara sekitar jam 14:00 lalu jalan dari station. 

Jadi total saya keluar dari kantor dari jam 11:10-14:10. 3,jam pp untuk bisa Shalat Jumat. 


Yang parah itu kalau hari Jumat itu hujan. Jadi kalau turun hujan, itu sangat sulit untuk mendapatkan taksi. Akhirnya dalam keadaan hujan sambil pegang payung saya berlari dari kantor menuju station. Alhamdulillah kereta yang jam 11:27 bisa terkejar.

Alhamdulillah 3.5 tahun perjuangan ini bisa dilalui. 


—- oOo —-


Terakhir saya ingin bercerita SJ di perusahaan  yang sekarang yaitu perusahaan yang ke 5. 

Ketika saya masuk perusahaan ini 4 tahun yang lalu, proses negosiasinya sama dengan yang sebelumnya, izin SJ ketika interview terakhir. Alhamdulillah lokasi kantor terjangkau dengan Masjid Jami’ Yokohama di Nakamachidai. Dari Nakamachidai station naik bis ke Masjidnya, tetapi setelah SJ harus jalan kaki ke station karena jadwal bisnya tidak pas dengan waktu selesainya SJ. 


2 tahun lalu kebetulan perusahaan ini mendirikan gedung baru dan memindahkan Headquarternya dari Shibuya-Tokyo ke Sentakita-Yokohama. 

Ketika dibuat angket yang disebar ke pegawai, saya usulkan agar ada mushollah. Dan Alhamdulillah Mushollah ini dibuatkan. Saya rasa para pegawai muslim yang lain juga mengusulkan hal yang sama sehingga perusahaan mengakomodir usulan tersebut. Walaupun ruanganan tersebut namanya  Multipurpose room tetapi fasilitas dan aturannya mirip dengan mushollah. Ada 2 tempat wudhu. harus melepaskan sepatu ketika masuk. Tempatnya cukup luas dan muat untuk 30 orang lebih. Perusahaan ini perusahaan Jerman sehingga banyak pegawainya dari berbagai negara. Yang muslim, ada yang dari India, Bangladesh, Malaysia, Senegal dan Indonesia. 

Alhamdulillah sejak pindah ke gedung baru ini, saya bisa Shalat Jumat di mushollah ini dengan muslim dari berbagai negara tanpa harus keluar dari kantor, tanpa harus menghabiskan waktu 3 jam pp naik kereta  untuk bisa SJ. Dan yang paling asyiknya itu walaupun bekerja di Jepang, bila waktunya pas dengan muslim yang lain,  saya bisa shalat berjamaah di kantor 3x sehari. Zuhur, Ashar dan Maghrib. Ini kenikmatan yang sangat saya syukuri, Alhamdulillah.  


Mushollahnya bisa dilihat di link berikut di menit ke 04:00.


https://m.youtube.com/watch?v=tSN8vsk894M&t=12s&pp=ygUYYm9zY2ggamFwYW4gaGVhZHF1YXJ0ZXJz0gcJCRsMAYcqIYzv&ra=m


Demikian sedikit pengalaman seputar Shalat Jumat selama bekerja di Jepang, semoga bisa diambil hikmahnya. 


Yokohama, 5 September 2026


—- oOo —-


 Tentang Penulis:


Nama : Endrianto Djajadi, M.Eng

Pengamat Kehidupan di Jepang.

Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. dengan beasiswa Monbusho (MEXT).

Setelah menyelesaikan Studi program d3 melanjutkan studinya. S1. S2 di bidang Robotik di Universitas di Jepang, melanjutkan karirnya di perusahaan Jepang (Sony Corporation dan Japan Display Inc.) selama 17 tahun dalam bidang pengembangan Display untuk digital camera, video camera dan smartphone.

Mulai 2018 bergabung di perusahaan supplier otomotif asal Italia (Magneti Marelli) sebagai Manager Supplier Quality Assurance.

Mulai 2022 bergabung di perusahaan supplier otomotif asal Jerman (Bosch Corporation) sebagai Senior Customer Quality Engineer.

Tulisan-tulisannya dapat dibaca di :


http://endrianto-djajadi.blogspot.com/?m=1