[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke-14] Pernak pernik mengambil SIM Mobil di Jepang
Oleh : Endrianto Djajadi
http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com
Beberapa pekan yang lalu tepatnya tanggal 27 Oktober 2017, tiba-tiba ada kohai/adik kelas yang meng-inbox saya.
" Mau tanya dulu pak Endri belajar nyetir di Tokyo dimana? ada osusume? " (Osusume : Yang direkomendasikan).
Saya teringat kembali dengan niatan saya yang sudah lama, yaitu men-sharing pengalaman membuat SIM Mobil di Jepang.
Saya datang ke Jepang di usia masih muda, 19 tahun. Saat itu, sewaktu di Indonesia tidak ada fikiran untuk mengambil SIM mobil karena SIM motor sudah cukup. Dan lagi saya juga tidak punya mobil, Pergi kuliah PP ke kampus UI Depok selalu naik Metromini dan kendaraan umum lainnya. Akhirnya, ketika tiba di Jepang, saya keadaan belum memiliki SIM mobil.
Setibanya di Jepang, saya tinggal di asrama yang jaraknya tidak jauh dari kampus, sehingga saya biasa berjalan kaki atau naik sepeda ke kampus. Pernah ada senior yang memberi nasehat kepada saya seperti ini :
" Ambil SIM mobil saja di Jepang, tidak ada ruginya ",
Kalau dingat-ingat lagi nasehat itu, benar juga nasehat senior ini. Setelah memiliki SIM mobil dan membeli mobil yang second, banyak hal yang bisa saya lakukan seperti :
1. Menolong teman yang pindahan
2. Menjemput teman-teman untuk pergi jamaah ke masjid
3. Mengantarkan dagangan ke para pembeli.
4. Menjadi Tim Transportasi di berbagai acara
5. Mengantarkan tamu jalan-jalan.
6. Ini yang paling penting, menjadi sarana berkomunikasi dengan istri dan anak-anak. Anak-anak lebih lepas ceritanya di dalam mobil dibandingkan cerita di depan meja makan atau ruang TV.
Kembali kepada pertanyaan adik kelas saya, saya jawab :
"Saya belajar mobil di sekolah menyetir mobil tepatnya namanya Hinomaru. Tempatnya dekat dengan Meguro Station. Kalau kita naik JR Yamanote Line dari Ebisu menuju Meguro,, kita bisa melihat Hinomaru lewat jendela sebelah kanan".
Di Hinomaru biaya total 320.000 yen untuk SIM mobil otomatis dan 330.000 untuk SIM mobil manual.
Aturannya, pengemudi yang punya SIM Manual boleh menyetir mobil Manual dan Otomatis. Tetapi pengemudi yang punya SIM Otomatis hanya boleh menyetir mobil otomatis, tidak boleh menyetir mobil yang manual. Karena hanya beda 10.000 yen, saya ambil SIM Manual.
Biaya 330.000 ini terdiri dari 32 paket teori dan 32 paket praktek mengemudi. Di awal kita hanya membayar 135.000 yen untuk 32 kali paket teori dan 2 kali paket praktek. Setelah itu untuk praktek yang ke 3, 4, 5 dst kita membayar 6500/jam. Saya baru faham ini karena sebelumnya saya berfikir harus membayar lunas 330.000 di awal. Info lebih jelas bisa sahabat-sahabat tanyakan langsung ke Hinomaru karena info di atas info 6-7 tahun yang lalu.
Untuk paket teori, kita bisa lihat jadwal per pekan. Misalnya hari Sabtu jam ke 3 ada teori A maka kita bisa ikut. Dalam waktu 50 menit, 30 menit instruktur menjelaskan teori di depan kelas, sisa waktu diisi dengan menonton Video. Misalnya Video ketika akan belok ke kanan kita harus menunggu mobil dari arah berlawanan habis, cara menolong bila melihat ada kecelakaan, hal-hal yang perlu diperhatikan ketika ingin membelok dll.
Untuk praktek, kita harus reserve hari, tanggal dan jam berapa. Tetapi kita boleh menjadi waiting list tanpa reserve. Misalnya kita ada waktu dari jam 18:00-19:00 dan ada peserta yang membatalkan belajar praktek pada jam itu, maka kita bisa latihan praktek di jam tersebut menggantikan peserta yang tidak hadir.
Ada paket perhari maksimal 2 jam atau 4 jam dst. Saya mengambil yang paket max 2 jam.
Saat itu kantor saya di Shinagawa. Pulang kantor jam 18:00 mampir ke Hinomaru belajar praktek jam 19:00-20:00.
Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan kursus mengemudi dalam waktu 4 bulan dari November sampai Februari.
Setelah semua paket selesai, ujian praktek ambil SIM dilakukan di sekolah itu juga. Kita diberi peta dan harus mengemudikan sesuai dengan peta yang diberikan. Selain itu ada juga ujian memarkir mobil, membuat huruf S dll. Setelah dinyatakan lulus praktek, saya membawa tanda lulus ke tempat pembuatan SIM. Karena saya tinggal di Yokohama, saya ambil ujian tertulis di Futamatagawa.
--- oOo ---
Ujian tertulis ada 95 soal hanya memilih Benar atau Salah. Waktu hanya 50 menit dan nilai harus di atas 90 untuk lulus.
Karena waktu yang begitu singkat dan harus mendapatkan nilai di atas 90, banyak yang harus berkali-kali untuk mengulangnya, walaupun orang Jepang sekalipun. Bila kita tidak lulus, kita bisa mengulangnya dengan membayar 2500 untuk biaya ujian.
Ini berbeda dengan sahabat-sahabat yang sudah memiliki SIM mobil dari Indonesia. Ujian tertulis hanya 10 soal dan akan lulus bila 7 jawaban benar. Bagi yang ingin menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang, ujian prakteknya yang cukup sulit.
Untuk proses menukar SIM Indonesia ke SIM Jepang, sahabat-sahabat bisa merujuk ke tulisan di bawah ini yang menurut saya menarik untuk dibaca.
1 http://scratchesofapen.blogspot.jp/2015/02/pengalaman-ambil-sim-di-jepang.html?m=1
2 https://zuhudrozaki.wordpress.com/2013/07/24/menukar-sim-a-indonesia-ke-sim-a-jepang-切り替え-kirikae/
OK ... Selamat menimbang-nimbang dan mempersiapkan diri untuk mendapatkan SIM Jepang.
Yokohama, 11 November 2017.
--- oOo ---
Penulis : Endrianto Djajadi, M.Eng
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menyelesaikan studi d3, S1 dan S2 bidang Teknik Elektro khususnya Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan pembuat Display LCD untuk smartphone di Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com
Saturday, November 11, 2017
Wednesday, July 05, 2017
SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke-13] TK sebagai tempat melatih anak bersosialisasi
[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke-13] TK sebagai tempat melatih anak bersosialisasi
Oleh : Endrianto Djajadi
Chiba, Rabu 5 Juli 2017
Hari ini saya menerima satu pertanyaan dari seorang adik kelas di daerah Yokohama :
" assalaamu'alaykum
mas endri, ada tulisan blog nya tentang TK di jepang ga mas? saya nyari cuma dapet yg SD dr mas endri "
Dulu saya pernah menuliskan sedikit cerita tentang TK di Jepang, tetapi belum sempat saya masukkan ke SKJ.
Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit sharing tentang TK di Jepang, semoga ada manfaatnya.
Sekilas cerita tentang TK yang dalam bahasa Jepangnya : Yochien, di Jepang Yochien dibagi menjadi 3 kelas :
1. Umur 3 tahun (Nensyo)
2. Umur 4 tahun (Nenchuu)
3. Umur 5 tahun (Nenchou)
*** Umur dihitung per 1 April. Misalnya lahir antara 1 April 2014 - 31 Maret 2015, misalnya anak lahir bulan Juni 2014 maka anak akan masuk di bulan April 2018 tahun depan di kelas Umur 3 tahun (Nensyou).
Biasanya orang tua Jepang memasukkan anak-anaknya mulai dari umur 3 tahun sehingga anak mereka belajar di TK selama 3 tahun. Tetapi ada juga yang mulai memasukkan anaknya setelah berumur 4 tahun sehingga anak mereka hanya 2 tahun belajar di TK.
Dulu waktu saya ingin memasukkan putri pertama, saya berfikir ingin memasukkannya ketika sudah berumur 5 tahun saja agar interaksi anak dengan saya dan istri lebih banyak. Akan tetapi hal ini tidak bisa direalisasikan karena TK-TK di Jepang tidak menerima murid baru yang masuk di umur 5 tahun. Murid-murid mereka adalah murid-murid yang sudah bersekolah sejak umur 3 atau 4 tahun.
Karena belum punya pengalaman tentang hal itu, saya mulai faham setelah bulan Mei atau bulan Juni. Akhirnya saya mencoba bernegosiasi dengan beberapa TK untuk bisa menerima putri saya di kelas Umur 4 tahun tidak dari awal bulan April (karena terlambat tahu tidak bisa memasukkan anak di kelas umur 5 tahun), tetapi memasukkannya per bulan September. Alhamdulillah satu Yochien yaitu Mitakedai Yochien mau menerimanya dan putri saya bisa bersekolah per bulan September 2005.
Jadi, kepada sahabat-sahabat yang sudah memiliki putra-putri yang berumur 2 tahun, perlu pertimbangan yang cukup serius dalam menentukan apakah ingin memasukkan putra-putrinya sejak umur 3 tahun atau 4 tahun. Biasanya pendaftaran TK dibuka bulan Oktober atau November tahun sebelum masuk tahun ajaran baru.
Tulisan berikut ini adalah tulisan ketika anak saya yang ke 3 akan masuk Yochien di kelas Umur 4 tahun (Nenchuu) di tahun 2009.
--- oOo ---
Mungkin upacara masuk TK anak kita tidak tergolong spesial bagi orang Indonesia. Tetapi upacara ini cukup spesial bagi orang Jepang.
Alhamdulillah tanggal 7 April saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menghadiri Acara Upacara Masuk TK anak ke 3 yaitu Zakiyyah.
Acara upacara ini tidak berjalan lama, diawali dengan masuknya anak2 ke ruangan hall kemudian bernyanyi bersama, perkenalan para guru. Kemudian acara dilanjutkan di kelas masing-masing. Anak-anak mendengarkan cerita dari 2 guru dan orang tua murid mendengarkan penjelasan dari wali kelas. Penjelasannya cukup banyak seperti skedule per hari, tentang barang-barang yang perlu dibawa besok, mengenai jemputan bis dllnya.
Para orang tua warga Jepang sangat antusias menghadiri acara-acara upacara masuk dan upacara wisuda anaknya. Terbukti dengan banyaknya para bapak izin dari kantor untuk menghadiri acara ini. Teman sekantor ada yang mengambil libur hari seninnya karena hadir di acara upacara masuk anaknya ke SD. Saya termasuk yang mengambil libur setengah hari. Acara penerimaan murid baru dan wisuda di Jepang diadakan di hari kerja, tidak di hari sabtu atau Ahad.
Mungkin banyak orang yang berfikir, TK hanyalah tempat bermain anak saja sehingga tidak dirasakan
begitu penting. Tetapi bagi saya dan juga penjelasan dari guru-guru di sini, TK adalah tempat pertama kali anak-anak belajar hidup sosial. Belajar bagaimana bisa berbagi,
bermain bersama-sama teman seumuran, belajar menahan emosi ketika rebutan mainan dengan
temannya, belajar mendengarkan cerita dari guru, belajar berpisah dari orang tua dari jam 9 pagi sampai jam 13:30 siang, belajar makan bersama kawan-kawan di sekolah dst.
Jadi banyak yang bisa diambil hikmahnya dari belajar di TK. Seperti yang saya jelaskan di atas,
diJepang TK dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu untuk yang berumur 3 tahun (nensyo), 4 tahun (nenchuu)
dan 5 tahun (nenchou). Setelah anak berumur 6 tahun anak-anak akan masuk SD.
Selain Upacara masuk banyak juga acara-acara yang menarik di TK, mungkin di lain kesempatan akan saya ceritakan acara-acara di TK seperti Festival Olah Raga (Undoukai), acara jalan-jalan (ensoku), acara seni-musik tampil di panggung dst.
Acara Upacara masuk diakhiri dengan foto bersama murid dan orang tua murid.
Mengenai biaya sekolah di TK, di daerah saya di Yokohama, karena tidak ada TK Negri maka saya harus memasukkan anak-anak ke TK swasta. Perbulan sekitar 23.000 yen selain makan siang dan bus antar jemput. Di awal tahun sekitar bulan Januari, sekolah akan mengembalikan sekitar 100.000 yen.
Untuk makan siang, karena banyak menu yang tidak bisa dimakan, kami setiap hari menbawakan bentou (bekal) untuk makan siang.
Demikian sekilas tentang TK di Jepang.
Akhirnya anakku masuk TK ... setelah 4 tahun hanya bermain dengan kakak-kakaknya dan hanya di rumah, sekarang dia mulai belajar hidup sosial .... Gambatte kudasai ne ... zakki ...
Yokohama, 8 April 2009
--- oOo ---
Penulis : Endrianto Djajadi, M.Eng
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menyelesaikan studi d3, S1 dan S2 bidang Teknik Ekektro khususnya Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan pembuat Display LCD untuk smartphone di Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com
Oleh : Endrianto Djajadi
Chiba, Rabu 5 Juli 2017
Hari ini saya menerima satu pertanyaan dari seorang adik kelas di daerah Yokohama :
" assalaamu'alaykum
mas endri, ada tulisan blog nya tentang TK di jepang ga mas? saya nyari cuma dapet yg SD dr mas endri "
Dulu saya pernah menuliskan sedikit cerita tentang TK di Jepang, tetapi belum sempat saya masukkan ke SKJ.
Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit sharing tentang TK di Jepang, semoga ada manfaatnya.
Sekilas cerita tentang TK yang dalam bahasa Jepangnya : Yochien, di Jepang Yochien dibagi menjadi 3 kelas :
1. Umur 3 tahun (Nensyo)
2. Umur 4 tahun (Nenchuu)
3. Umur 5 tahun (Nenchou)
*** Umur dihitung per 1 April. Misalnya lahir antara 1 April 2014 - 31 Maret 2015, misalnya anak lahir bulan Juni 2014 maka anak akan masuk di bulan April 2018 tahun depan di kelas Umur 3 tahun (Nensyou).
Biasanya orang tua Jepang memasukkan anak-anaknya mulai dari umur 3 tahun sehingga anak mereka belajar di TK selama 3 tahun. Tetapi ada juga yang mulai memasukkan anaknya setelah berumur 4 tahun sehingga anak mereka hanya 2 tahun belajar di TK.
Dulu waktu saya ingin memasukkan putri pertama, saya berfikir ingin memasukkannya ketika sudah berumur 5 tahun saja agar interaksi anak dengan saya dan istri lebih banyak. Akan tetapi hal ini tidak bisa direalisasikan karena TK-TK di Jepang tidak menerima murid baru yang masuk di umur 5 tahun. Murid-murid mereka adalah murid-murid yang sudah bersekolah sejak umur 3 atau 4 tahun.
Karena belum punya pengalaman tentang hal itu, saya mulai faham setelah bulan Mei atau bulan Juni. Akhirnya saya mencoba bernegosiasi dengan beberapa TK untuk bisa menerima putri saya di kelas Umur 4 tahun tidak dari awal bulan April (karena terlambat tahu tidak bisa memasukkan anak di kelas umur 5 tahun), tetapi memasukkannya per bulan September. Alhamdulillah satu Yochien yaitu Mitakedai Yochien mau menerimanya dan putri saya bisa bersekolah per bulan September 2005.
Jadi, kepada sahabat-sahabat yang sudah memiliki putra-putri yang berumur 2 tahun, perlu pertimbangan yang cukup serius dalam menentukan apakah ingin memasukkan putra-putrinya sejak umur 3 tahun atau 4 tahun. Biasanya pendaftaran TK dibuka bulan Oktober atau November tahun sebelum masuk tahun ajaran baru.
Tulisan berikut ini adalah tulisan ketika anak saya yang ke 3 akan masuk Yochien di kelas Umur 4 tahun (Nenchuu) di tahun 2009.
--- oOo ---
Mungkin upacara masuk TK anak kita tidak tergolong spesial bagi orang Indonesia. Tetapi upacara ini cukup spesial bagi orang Jepang.
Alhamdulillah tanggal 7 April saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menghadiri Acara Upacara Masuk TK anak ke 3 yaitu Zakiyyah.
Acara upacara ini tidak berjalan lama, diawali dengan masuknya anak2 ke ruangan hall kemudian bernyanyi bersama, perkenalan para guru. Kemudian acara dilanjutkan di kelas masing-masing. Anak-anak mendengarkan cerita dari 2 guru dan orang tua murid mendengarkan penjelasan dari wali kelas. Penjelasannya cukup banyak seperti skedule per hari, tentang barang-barang yang perlu dibawa besok, mengenai jemputan bis dllnya.
Para orang tua warga Jepang sangat antusias menghadiri acara-acara upacara masuk dan upacara wisuda anaknya. Terbukti dengan banyaknya para bapak izin dari kantor untuk menghadiri acara ini. Teman sekantor ada yang mengambil libur hari seninnya karena hadir di acara upacara masuk anaknya ke SD. Saya termasuk yang mengambil libur setengah hari. Acara penerimaan murid baru dan wisuda di Jepang diadakan di hari kerja, tidak di hari sabtu atau Ahad.
Mungkin banyak orang yang berfikir, TK hanyalah tempat bermain anak saja sehingga tidak dirasakan
begitu penting. Tetapi bagi saya dan juga penjelasan dari guru-guru di sini, TK adalah tempat pertama kali anak-anak belajar hidup sosial. Belajar bagaimana bisa berbagi,
bermain bersama-sama teman seumuran, belajar menahan emosi ketika rebutan mainan dengan
temannya, belajar mendengarkan cerita dari guru, belajar berpisah dari orang tua dari jam 9 pagi sampai jam 13:30 siang, belajar makan bersama kawan-kawan di sekolah dst.
Jadi banyak yang bisa diambil hikmahnya dari belajar di TK. Seperti yang saya jelaskan di atas,
diJepang TK dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu untuk yang berumur 3 tahun (nensyo), 4 tahun (nenchuu)
dan 5 tahun (nenchou). Setelah anak berumur 6 tahun anak-anak akan masuk SD.
Selain Upacara masuk banyak juga acara-acara yang menarik di TK, mungkin di lain kesempatan akan saya ceritakan acara-acara di TK seperti Festival Olah Raga (Undoukai), acara jalan-jalan (ensoku), acara seni-musik tampil di panggung dst.
Acara Upacara masuk diakhiri dengan foto bersama murid dan orang tua murid.
Mengenai biaya sekolah di TK, di daerah saya di Yokohama, karena tidak ada TK Negri maka saya harus memasukkan anak-anak ke TK swasta. Perbulan sekitar 23.000 yen selain makan siang dan bus antar jemput. Di awal tahun sekitar bulan Januari, sekolah akan mengembalikan sekitar 100.000 yen.
Untuk makan siang, karena banyak menu yang tidak bisa dimakan, kami setiap hari menbawakan bentou (bekal) untuk makan siang.
Demikian sekilas tentang TK di Jepang.
Akhirnya anakku masuk TK ... setelah 4 tahun hanya bermain dengan kakak-kakaknya dan hanya di rumah, sekarang dia mulai belajar hidup sosial .... Gambatte kudasai ne ... zakki ...
Yokohama, 8 April 2009
--- oOo ---
Penulis : Endrianto Djajadi, M.Eng
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menyelesaikan studi d3, S1 dan S2 bidang Teknik Ekektro khususnya Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan pembuat Display LCD untuk smartphone di Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com