Tuesday, December 26, 2017

[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke 17] Mengasah Skill Analog

[SKJ : Sharing Kehidupan di Jepang ke 17]  Mengasah Skill Analog

Oleh : Endrianto Djajadi

Sahabat2 ... Sering kita mendengar istilah analog dan digital. Di masa modern ini kesan dari digital sepertinya lebih keren dan lebih wah dibandingkan yang analog.

Contohnya, beberapa tahun terakhir di Jepang TV-TV migrasi dari TV Analog ke TV Digital, walaupun bagi pemilik TV analog masih bisa memconvert tv-nya sehingga bisa menyaksikan siaran digital.

Di bidang lain kita sudah sulit sekali bahkan tidak akan menemukan mahasiswa yang membuat skripsi dengan tulisan tangan. Semua sudah pakai komputer. Kalau ada penulisan atau ksta-kata yang salah tinggal delete lalu ganti dengan kata-kata yang benar. Tidak perlu lagi Tip-Ex (sekarang apa masih ada barang ini ya?) yang berguna untuk menutupi tulisan kita yang salah.

Apakah semua yang digital lebih wah dari yang analog?

Ternyata tidak ...

Beberapa tahun yang lalu kebetulan saya menjadi ketua RT di apartemen saya. Ketua RT ini salah satu tugasnya menjadi panitia di acara-acara yang dibuat oleh RW setempat. Misalnya latihan gempa, nobar film kartun untuk anak-anak SD, festival musim panas, festival olah raga dll.

Salah satu acara yang diadakan setiap awal tahun adalah acara : Kakizome. Kakizome adalah kompetisi menulis huruf kanji dengan indah menggunakan kuas.

Tentang Kakizome bisa dilihat di :
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kakizome

Acara ini diadakan di Hall sebuah SD dan diikuti hampir 100 anak SD yang tinggal di sekitar SD tersebut.

Pada acara pembukaan, ketua panitia menjelaskan tentang pentingnya mengasah kemampuan menulis kanji. Ada kebudayaan Jepang yaitu mengirimkan Kartu Tahun Baru (Nengajo) kepada kerabat-kerabatnya, kepada bos di kantor dll. Ini mirip2 dengan kebudayaan kita ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri zaman dulu. Kenapa saya katakan zaman dulu? Karena sekarang hampir tidak ada di antara kita yang mengirimkan Kartu Lebaran dengan menggunakan kartu pos, semua serba digital dan semua tinggal copy paste dan kita hanya mengubah nama kerabat, alamat email atau alamat facebooknya.

Tetapi berbeda dengan Jepang, mereka tetap mengirim Kartu Tahun baru atau Nengajou dalam bahasa Jepangnya melalui pos. Bagi yang punya kolega yang banyak, bisa ratusan kartu pos yang mereka kirim. Hal ini untuk menjaga hubungan agar tetap uptodate keadaan diri dan alamat rumah.

Ketua panitia menyampaikan akan pentingnya melatih skill dalam menulis kanji. Akan berbeda rasanya ketika kita menerima Nengajo hasil print-an dari komputer dibandingkan tulisan dengan tangan. Tulisan tangan lebih terasa dekat bagi kita.

Selain Kakizome, Jepang berusaha melestarikan budaya menulis kanji ini dengan memasukkannya sebagai mata pelajaran di SD.
Dalam setahun ada acara di SD Jepang yang namanya Jugyou sankan. Acara ini diadakan hari Sabtu. Anak-anak belajar seperti biasa dan para orang tua diminta untuk datang ke sekolah untuk melihat keadaan anak-anaknya ketika mengikuti pelajaran di sekolah.

Pada acara Jugyou sankan ini lah guru-guru menampilkan hasil karya anak-anak muridnya dalam menuliskan kanji.

Saya pernah mendapatkan  kesempatan untuk melihat hasil2 karya putra putri saya di sekolah.

Putra saya anak ke 2 yang waktu itu kelas 6 SD menulis kanji yang judul kanjinya : 夢の実現 yang artinya "Realisasi cita-cita"

Putri saya anak ke 3 yang waktu itu kelas 5 SD, judul kanjinya : 美しい空 yang artinya "Langit yang Indah"

Tema-tema kanji yang diangkat sangat menarik dan memberikan motivasi kepads anak-anak.

Demikian sedikit cerita tentang bagaimana Jepamg menjaga budayanya yang tentu saja Analog di tengah-rengah zaman modern dan zaman serba digital.

Yokohama, 26 Desember 2017

--- oOo ---

Penulis : Endrianto Djajadi, M.Eng
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menyelesaikan studi d3, S1 dan S2 bidang Teknik Elektro khususnya Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan pembuat Display LCD untuk smartphone di Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com

Sunday, December 24, 2017

[Opini] Dapatkah Warga Jepang bertahan ?


[Opini] Dapatkah Warga Jepang bertahan ?

Oleh : Endrianto Djajadi

Tahun ini tahun terendah angka kelahiran warga Jepang. Tahun ini lahir 941.000 bayi. Warga yang meninggal 1.344.000,  jadi tahun 2017 ini berkurang penduduk Jepang 403.000 orang. Ini angka terbanyak selama ini dan terus bertambah cepat berkurangnya warga Jepang dari tahun ke tahun.

Jepang sendiri mengalami penurunan jumlah penduduk  11 tahun berturut-turut belakangan ini secara cepat. Prediksi di tahun  2065 penduduk Jepang sekarang di tahun 2017 berjumlah 127.090.000 orang menjadi 88.080.000 orang. Artinya 50 tahun lagi penduduk jepang berkurang 40 juta-an.

Di sisi lain, banyak warga asing yang mempunyai anak di Jepang yang salah satunya pasangan warga negara Indonesia. Ada yang melahirkan 3 anak bahkan ada yang sampai 5 anak.
Saya pernah katakan kepada teman Jepang, kalau penurunan warga negara Jepang tidak dicarikan solusinya maka secara alami 50 tahun lagi mungkin setengah penduduk yang tinggal di Jepang adalah warga asing.

Kalau saja saya ada kesempatan memberikan usulan kepada pemerintah Jepang, saya akan memberikan masukan bagaimana cara menambah penduduk Jepang. Ada 2 usulan dari saya, yaitu:

1. Banyak pasangan Jepang yang tidak ingin punya anak banyak. Padahal dulu banyak keluarga yang punya anak banyak. Salah satu penyebabnya adalah mengenai beratnya biaya pendidikan anak-anak. Memang untuk biaya SD dan SMP Negeri cukup murah bahkan boleh dikatakan gratis. Karena SD dan SMP wajib belajar di Jepang. Masuk ke SMA Negeri sekitar 20.000 yen per bulan. Kalau SMA Swasta sekitar 70.000 per bulan. Ketika anak-anak masuk Universitas dan kos2 an paling tidak perbulan perlu mengirim uang bulanan 100.000-150.000.
Itu belum termasuk biaya kuliah per semester sekitar 220.000-240.000 untuk Universitas Negeri dan di atas 500.000 an untuk Universitas Swasta. Padahal gaji pegawai Jepang kisaran 250.000-400.000 per bulan.
Intinya adalah orang Jepang khawatir dengan biaya sekolah anak-anaknya bila mempunyai anak yang banyak. Salah satu faktornya adalah karena mereka tidak ada beasiswa seperti mahasiswa-mahasiswa asing. Mereka hanya memiliki sistem loan yang harus dikembalikan ketika sudah bekerja. Kecuali bila mereka menjadi pegawai pemerintah mereka tidak perlu mengembalikan loan tersebut.

Usulan dari saya, bagaimana kalau biaya pendidikan diturunkan atau pemerintah Jepang memberikan beasiswa untuk warganya. Biaya kuliah digratiskan sehingga anggapan bahwa banyak anak akan sulit biaya pendidikannya akan hilang.

2. Biaya apartemen di Jepang cukup mahal. Hampir 1/3 gaji kita digunakan untuk membayar apartemen. Olehkarenanya, dengan memberikan subsidi perumahan kepada warga Jepang, diharapkan dapat menjadi stimulus agar mereka bisa mempunyai anak lebih dari 2. Sehingga dengan demikian pertumbuhan jumlah kelahiran bisa ditngkatkan.

Demikian sekilas opini mengenai jumlah penduduk Jepang di akhir tahun 2017 ini.

--- oOo ---

Penulis : Endrianto Djajadi, M.Eng
Pengamat kehidupan di Jepang.
Datang ke Jepang 1 Oktober 1993. Setelah menyelesaikan studi d3, S1 dan S2 bidang Teknik Elektro khususnya Robotics, melanjutkan bekerja sebagai Quality Assurance Engineer di perusahaan pembuat Display LCD untuk smartphone di Jepang sampai sekarang.
Tulisan-tulisannya bisa dibaca di : http://www.endrianto-djajadi.blogspot.com